Langsung ke konten utama

Kami Gelap


Beberapa sajak terpatri mudah
Ketika semesta membasahi tanah tandus
Di terik musim panas di pertengahan tahun

Aku seorang anak manusia
Yang tak takut mati
Tapi aku lebih berpikir
Bahwa lebih baik untuk tidak terlahir di dunia ini

Sisi gelap dunia mengajarkan ku banyak hal
Dia membuat aku tumbuh
Menjadi manusia yang tidak memiliki kepedulian dan rasa empati
Bahkan rasa sakit karena tertebas samurai preman pasar pun
Menjadi sangat nikmat ketika di jahit dan di bersihkan dengan alkohol

Berapa banyak lagi memar yang harus didapat
Berapa banyak lagi darah yang harus diteteskan
Bertarung dan teruslah bertarung
Menjadi rutinitas malam yang tak kunjung usai
Segini nya ya cari duit...itu
Jika aku tak kuat aku Takan hidup
Namun jika aku terlalu kuat lawanku yang berhenti hidup

Manusia bisa jadi mesin pembunuh jika sudah berurusan dengan materi
Jika kau menanyakan hati nurani...?
Ia telah lama mati
Di bunuh oleh doa doa usang yang tak pernah terwujud...

Apa kau tak takut dosa...?
Bohong rasanya jika sebagai manusia tidak takut dosa
Asal kau tau orang orang seperti kami pun juga ingin masuk surga
Karena kami tau neraka jauh lebih buruk dari kehidupan dunia yang kami jalani
Tapi...
Apa Tuhan masih Sudi...
Mendengarkan doa doa kami....
Entah lah....

Mewakili orang orang yang tersesat
Mewakili orang orang yang dikucilkan dunia
Jangan kira kami tak ingin kembali
Jangan kira kami berhenti berdoa
Jangan kira kami tak berTuhan
Jangan kira kami tak bisa menangis
Kami pernah menangis dalam doa yang tak kalian dengar

Jadi hentilah melihat sisi gelap kami...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terpatahkan Di Awal Tahun

Terpatahkan di awal tahun Saat itu ada yang menghampiri ku Mendekat dan membawa aroma Apshara Aku tertegun ini aroma lembut bagai bidadari Di tersenyum sangat manis Seraya menyodorkan sebatang bunga seruni Ini kesukaan mu kan Sambil tersenyum menunjukkan lesung pipit di pipi kanan nya Sudah lah katanya Biarkan dia tenang Cukup cintai dia dengan doa doa baikmu Tangis dan keputusasaan mu takan membuat dia bangkit dari peristirahatan terakhir nya Apa kau ingin dia kembali ke dunia dan mengeluarkan nya dari surga Dia sudah bahagia disana Bukan kah surga tempat sebaik-baiknya kembali Aku kembali menengok nya Dia terlihat sangat bijak dengan kata katanya Bukankah kau temannya kataku Apa kau tidak sedih orang yang kau sayang pergi meninggalkan mu Sedih... Sedih bangat katanya... Namun semua sudah ditetapkan apa kau meragukan takdir Tuhan Bangkit lah... Tata hidup mu kembali Daisy pun pasti tak ingin melihat keadaan mu yang seperti ini... Dia menggandeng tangan ku Ayo kita pergi.. ...

Ada apa di bulan ini

Ada yang salah di bulan ini Entah kenapa Lain banget rasa nya Semuanya berlalu begitu saja Apa yang harus aku lakukan Kusangat kecewa dengan bulan ini Semuanya tak berjalan dengan baik Terlalu banyak kesedihan Dan sejujurnya akupun sudah lelah Apa kah masih ada hari esok Dan apa kah tetap seperti ini ♌•͡˘.˘ •͡♌"◦°◦ºº ĦцüĦ.. Mungkin ini salah ku Maaf tuhan Bila ku tak bersyukur Dan terlalu banyak meminta

Darimana Harus Kumulai

Entah darimana harus kumulai kata-kata pembuka hatiku. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu saja seperti terhipnotis, kamu membuatku lupa akan segalanya. Wajahmu selalu saja hadir dan menimbulkan akan rasa lupa yang membingungkan pada wajah-wajah wanita lain yang pernah kucintai sebelumnya, begitu kuatnya. Aku tak pernah tahu dari jurusan mana kamu datang. Tiba-tiba kamu hadir begitu saja, membawa keremangan takdirku. Kamu membekap hatiku dalam kebimbangan cinta—tanpa arah, tanpa tujuan pasti, tapi aku suka. Entah kamu anugerah ataukah mungkin malah penderitaanku. Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Perpustakaan adalah kata kuncinya. Entah kenapa aku selalu memilih meja dan kursi yang sama demi membaca buku, mungkin karena tata letaknya yang dekat dengan jendela hingga aku bisa merasakan sepoi angin membelaiku. Saat itu kutemukan sebuah buku agenda di atas meja tempat biasanya aku membaca buku-buku perpustakaan. Kubuka lembaran pertama buku agenda itu. Nama ...