Langsung ke konten utama

Bagian kisah ini

Pada akhirnya kau jadi bagian kisah ini

Jika kau membaca tulisan ini

Arti nya kita sudah tidak bersama


Awal hadirmu

Aku merasa paling harus melindungi mu

Seiring berjalannya waktu 

Kita memutuskan untuk saling mencintai 

Namun memang kita terlalu jauh berbeda 


Aku pria tua yg pecundang 

Sedangkan kamu gadis bingung tanpa tujuan

Banyak hal kita coba lalui 

Untuk berusaha sembuh dari luka luka kita dimasa lalu


Namun seiring waktu 

Kau menjadi api dan aku ikut menjadi api 

Kita sama sama membakar dan menyakiti 

Dan aku masih berusaha menahan mu untuk tetap tinggal dan berubah 


Ku pikir semua yang kulakukan itu 

Bisa kau rasakan ketulusan nya

Namun ku salah

Karena egoku kau jadi berubah

 

Kau yang ku kenal lucu dan suka bercanda 

Pada akhirnya kita lupa bagaimana cara tertawa 

Kita merasa sisi yang paling benar

Namun pada akhirnya ku tersadar 

Siapa aku...?

Dan bagaimana kedepannya 


Aku tak memiliki tujuan hidup 

Alasan ku bertahan selama ini hanya untuk membahagiakan mu

Namun 

Itu hanya bagian yang kau lupa


Ku berharap kedepannya 

Kau selalu bahagia 

Dengan seseorang yang bersedia mengucapkan selamat malam dan selamat pagi 

Seseorang yang bersedia mengirimkan foto kegiatan nya

Seseorang yang mengajak mu jalan jalan

Dan seseorang yang memasang kan helm serta membuka kan pijakan motor untuk mu


Seseorang yang tau ketika pesan makanan dia tidak akan kuat membawa nya dan kuharap laki laki itu cukup paham untuk mengangkatnya untuk mu

Jangan lupa rapikan sepatu ataupun sendal nya

pegang dia saat berjalan agar dia tidak tersandung


Mungkin peran ku sudah selesai 

Tak ada yg disesali semoga kau selalu bahagia disana

Setidaknya terimakasih sudah pernah mencoba 

Walau akhirnya kita hanya tinggal cerita 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terpatahkan Di Awal Tahun

Terpatahkan di awal tahun Saat itu ada yang menghampiri ku Mendekat dan membawa aroma Apshara Aku tertegun ini aroma lembut bagai bidadari Di tersenyum sangat manis Seraya menyodorkan sebatang bunga seruni Ini kesukaan mu kan Sambil tersenyum menunjukkan lesung pipit di pipi kanan nya Sudah lah katanya Biarkan dia tenang Cukup cintai dia dengan doa doa baikmu Tangis dan keputusasaan mu takan membuat dia bangkit dari peristirahatan terakhir nya Apa kau ingin dia kembali ke dunia dan mengeluarkan nya dari surga Dia sudah bahagia disana Bukan kah surga tempat sebaik-baiknya kembali Aku kembali menengok nya Dia terlihat sangat bijak dengan kata katanya Bukankah kau temannya kataku Apa kau tidak sedih orang yang kau sayang pergi meninggalkan mu Sedih... Sedih bangat katanya... Namun semua sudah ditetapkan apa kau meragukan takdir Tuhan Bangkit lah... Tata hidup mu kembali Daisy pun pasti tak ingin melihat keadaan mu yang seperti ini... Dia menggandeng tangan ku Ayo kita pergi.. ...

Ada apa di bulan ini

Ada yang salah di bulan ini Entah kenapa Lain banget rasa nya Semuanya berlalu begitu saja Apa yang harus aku lakukan Kusangat kecewa dengan bulan ini Semuanya tak berjalan dengan baik Terlalu banyak kesedihan Dan sejujurnya akupun sudah lelah Apa kah masih ada hari esok Dan apa kah tetap seperti ini ♌•͡˘.˘ •͡♌"◦°◦ºº ĦцüĦ.. Mungkin ini salah ku Maaf tuhan Bila ku tak bersyukur Dan terlalu banyak meminta

Darimana Harus Kumulai

Entah darimana harus kumulai kata-kata pembuka hatiku. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu saja seperti terhipnotis, kamu membuatku lupa akan segalanya. Wajahmu selalu saja hadir dan menimbulkan akan rasa lupa yang membingungkan pada wajah-wajah wanita lain yang pernah kucintai sebelumnya, begitu kuatnya. Aku tak pernah tahu dari jurusan mana kamu datang. Tiba-tiba kamu hadir begitu saja, membawa keremangan takdirku. Kamu membekap hatiku dalam kebimbangan cinta—tanpa arah, tanpa tujuan pasti, tapi aku suka. Entah kamu anugerah ataukah mungkin malah penderitaanku. Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Perpustakaan adalah kata kuncinya. Entah kenapa aku selalu memilih meja dan kursi yang sama demi membaca buku, mungkin karena tata letaknya yang dekat dengan jendela hingga aku bisa merasakan sepoi angin membelaiku. Saat itu kutemukan sebuah buku agenda di atas meja tempat biasanya aku membaca buku-buku perpustakaan. Kubuka lembaran pertama buku agenda itu. Nama ...